Spenpraja Today,- #SahabatSpenpraja Dalam rangka memperingati Rahina Tilem Sasih Karo, seluruh warga SMP Negeri 4 Singaraja (Spenpraja) melaksanakan persembahyangan bersama di Prahayangan sekolah dengan penuh khidmat. Kegiatan ini diikuti oleh Bapak Kepala Sekolah, seluruh guru, pegawai, serta peserta didik.
Kegiatan diawali pada pagi hari dengan Dharma Wacana yang disampaikan oleh Bapak Nyoman Sudiana sebelum pelaksanaan persembahyangan bersama. Beliau memberikan pencerahan spiritual yang mendalam kepada seluruh warga sekolah dengan mengangkat tema makna Canang Daksina dan Medanpunia dalam kehidupan umat Hindu.
Canang Daksina: Simbol Pengabdian dan Harmoni Kosmis
Dalam Dharma Wacananya, Bapak Nyoman Sudiana menyampaikan bahwa Canang Daksina bukan sekadar sarana upakara, tetapi mengandung falsafah teologis yang mendalam. Canang melambangkan niat suci manusia dalam mempersembahkan segala bentuk rasa syukur dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Canang terdiri dari unsur janur, bunga, dan sesari, yang masing-masing memiliki makna filosofis. Bunga yang berwarna-warni mencerminkan kehadiran Dewa-dewi (Tri Murti), janur menggambarkan kesucian, dan daksina atau sesari adalah lambang ketulusan hati.
Beliau menjelaskan secara hirarkis bahwa dalam persembahan Canang Daksina terdapat urutan makna yang menjembatani hubungan manusia dengan Tuhan (Parhyangan), manusia dengan sesama (Pawongan), dan manusia dengan alam (Palemahan). Ini sejalan dengan ajaran Tri Hita Karana yang menjadi dasar harmoni dalam kehidupan umat Hindu.
Medanpunia: Beramal dengan Ketulusan dan Sradha
Masih dalam Dharma Wacananya, Bapak Nyoman Sudiana juga menguraikan pentingnya Medanapunia dalam praktik keagamaan. Medanpunia adalah pemberian yang dilandasi oleh keikhlasan dan rasa bhakti, bukan karena paksaan atau pamrih duniawi.
Menurut beliau, medanpunia mencerminkan nilai dharma, yaitu kebaikan universal yang mengajarkan manusia untuk berbagi, menolong, dan peduli terhadap sesama. Dalam ajaran teologi Hindu, medanpunia merupakan salah satu bentuk karma marga, yaitu jalan pengabdian dalam mencapai moksa.
โJangan pernah ragu untuk memberi. Karena dalam memberi, ada kebahagiaan dan berkat yang mengalir. Medanpunia bukan sekadar materi, tapi juga ketulusan, tenaga, pikiran, dan waktu,โ ujar beliau.
Pujawali dan Doa Bersama
Setelah Dharma Wacana, acara dilanjutkan dengan pujawali bersama di pelinggih utama yang dipimpin oleh pemangku sekolah. Suasana hening, penuh penghayatan, tampak menyelimuti seluruh warga sekolah selama proses persembahyangan berlangsung.
Kegiatan ini menjadi sarana penyucian diri dan pembentukan karakter spiritual bagi peserta didik, sekaligus wujud implementasi Profil Pelajar Pancasila, khususnya dimensi beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia.
Rahajeng Nyanggra Rahina Tilem Sasih Karo
Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa senantiasa menganugerahkan kerahayuan, kebahagiaan, dan ketenangan lahir batin kepada seluruh warga sekolah.
Om Santih, Santih, Santih Om ![]()